Berharap Punya Dinding Triplek

IMG_0620

Namanya Mbah Saijah, lansia usia 70 tahun yang beralamat di Jalan Kepatihan Gang II No.5 RT.3 RW.9 Kepatihan Jombang. Mbah Saijah tinggal dirumah bambunya yang sempit. Rumah itu pernah mendapat bantuan bedah rumah desa yang dikerjakan setengah saja. Lalu bagaimana setengahnya? Setengahnya digarap warga sekitar. Gentengnya dari iuran warga, tidak ada jendela, tidak ada pintu, tembok luar rumah belum di plester, dan tidak ada kamar mandi. Kondisi ini memang dikarenakan keterbatasan dana warga, apalagi Mbah Saijah.

Masjid Carang Wulung

IMG_0794
 

Masjid Baitur Rahman yang terletak di Desa Carangwulung Wonosalam ini sudah lama menjalani proses perbaikan. Tenaga pembangunan dilakukan warga setempat secara gotongroyong tanpa biaya tukang sama sekali. Hanya saja untuk bantuan material masih sangat terbatas.

Tempurung Kepala Pak Kasmin Masih Di Perut

pak kamin
Kini usia Pak Kamin telah mencapai 58 tahun. Semasa mudanya, Pak Kamin adalah seorang pekerja keras. Lelaki asal Jombang, Dusun Carangrejo RT. 01 RW.01 Desa Carangrejo Kesamben ini pernah bekerja hingga ke Kalimantan untuk mencukupi nafkah keluarganya. Lama di Kalimantan, akhirnya Pak Kamin memutuskan utnuk pindah ke Surabaya. Di Surabaya Pak Kamin bekerja sebagai kuli bangunan.
Saat beliau menjalani pekerjaannya sebagai kuli bangunan tanpa diduga Pak Kamin mengalami struk, dan oleh majikannya Pak Kamin dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapat penanganan.
Menurut cerita, untuk memulihkan ingatannya, tempurung kepala Pak Kamin oleh dokter diambil dan diletakkan di perut. Seluruh pengobatan saat itu ditanggung oleh majikan Pak Kamin.
Sampai sekarang tempurung kepala Pak Kamin masih berada di perut, padahal menurut dokter yang menangani saat itu, tempurung kepala akan dikembalikan setelah 3 minggu. Keterbatasan biaya menjadikan tempurung kepala itu tetap di perut sampai 3 tahun. Ya sudah 3 tahun tempurung kepala itu belum kembali pada tempat yang seharusnya.

Nor Aini Anak Berprestasi

nuraini

Nor Aini, putrid dari Endang Supiatin dan Suparwadi adalah siswa kelas 1 SDN 1 Jelakombo yang pernah mendapat juara pertama Lomba Mewarnai se Kabupaten Jombang. Tumbuh di tengah keluarga yang tingkat ekonominya rendah tidak membuat semangatnya surut untuk meraih prestasi-prestasi di bidang yang dia kuasai baik akademik maupun nonakademik.

Nor Aini bersama orangtua dan seorang kakaknya tinggal di rumah majikan orangtuanya, Jl. Jayanegara No. 10. Terbilang sudah 6 tahun mereka tinggal di rumah majikannya itu. Supardi sendiri sehari-hari bekerja di salah satu toko milik majikannya itu, sedangkan Endang Supiatin bekerja serabutan di rumah majikan yang sama.

Griya Yatim LPUQ di Perak

griyayatim perak

Beberapa bulan yang lalu, saat liburan sekolah, tepatnya tanggal 30 Desember, Griya Yatim “Al-Amin” Perak melaksanakan kegiatan liburan bersama Yatim di Perak dan sekitarnya. Kegiatan liburan itu berupa wisata, dan Anjuk Ladang di Kabupaten Nganjuk. Kegiatan wisata ini disambut antusias oleh anak-anak yatim disana. Tidak sekedar wisata, kegiatan ini disisipi kegiatan bersama seperti berbagai lomba yang menyenangkan dan juga ada sedikit nasehat yang disampaikan oleh salah seorang Pembina Griya Yatim Perak.

Komariyah masih ingin terus bersekolah

komariyah-yatim

Komariyah adalah siswi SMAN 1 Jombang, tahun ini dia menempati dibangku kelas X. Komariyah adalah anak ke 3 dari 3 bersaudara dari pasangan Bapak Supriadi dan Ibu Juwariyah. Keluarga mereka tergolong keluarga yang kurang beruntung difaktor ekonominya, Pak Supriadi yang kesehariannya sebagai tukang becak yang penghasilannya kurang dari upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Sedangkan sang ibu bekerja sebagai buruh cuci gelas di salah satu toko jamu yang ada di Jombang, yang pendapatannya juga sangat minim sekali.

Rama dan Dhea Yatim Piatu

rama&dhea

Muhammad Bachtiar Qobil Ramadhan, yang dipanggil Rama adalah seorang anak berusia 14 tahun dan bersekolah di SMPN Kudu. Siswa kelas VII ini mempunyai seorang adik perempuan berusia 9 tahun yang bersekolah di MI Sunan Gunung Jati kelas II, bernama Dhea Ratu Tri Aries Triana.

Rama dan Dhea adalah kakak beradik yang kini diasuh oleh nenek mereka. Mereka yatim piatu, ayahnya yang bernama Supadi telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu, sedangkan ibunya yang bernama Musrifah juga telah meninggal dunia 8 bulan yang lalu.

Mbah Tandur

tfyghjMbah tandur namanya. Lansia berumur 84 tahun. Beliau tinggal di sebuah rumah tua di Dusun Balongbesuk Gang 1 Desa Balongbesuk Diwek Kabupaten Jombang. Beliau seorang janda dan Sekarang Mbah Tandur tinggal bersama kedua anaknya. Kondisi rumah yang sudah semakin menua seiring dengan usia Mbah Tandur yang semakin bertambah renta. Kehidupan yang serba kekurangan ditambah lagi tidak ada salah satu diantara anggota kelurganya yang bekerja dikarenakan dalam satu rumah hanya mereka bertiga yang menempatinya dan diantara mereka sama sekali tidak ada yang mampu lagi untuk mencari nafkah, meskipun hanya untuk membeli sebungkus nasi.

Mimpi Sang Guru TPQ

BN

 

Luluk Hidayati ialah seorang guru TPQ sukarela. Selama 5 tahun ini ia berhasil mendidik sekitar 100 santri. Banyaknya anak didik yang berminat di TPQ Luluk, menjadikan ia harus mencari guru tambahan untuk membantunya di TPQ. Selain sebagai guru TPQ dan Luluk Hidayati juga membantu di TK/Paud di desanya. Beliau mempunyai seorang anak yang baru duduk di TK-B. Suaminya yang hanya bekerja sebagai tukang servis computer/laptop.

Panggilan tak menyurutkan langkah untuk mewujudkan impiannya memiliki mushollah dan gedung TPQ di sebelah rumah. Dengan tekad dan kemauan yang kuat, kini mimpi – mimpi itu mulai nyata. Meskipun hidupnya bersama keluarga kecilnya itu serba kekurangan, tidak membuat mereka patah semangat untuk bekerja dan menyisihkan 50% dari pendapatan demi terwujudnya impian mereka.

Mbah Siti

byff[1]

 

 

 

 

Mbah Siti adalah seorang janda berusia 66 tahun. Ia tinggal di sebuah petak rumah kontrakan di daerah Pulo Asri. Beliau tinggal bersama tiga orang anaknya. Untuk biaya hidupnya dan ketiga anaknya diperoleh dari penghasilan salah satu anak Mbah Siti yang bekerja di sebuah pabrik di kota Krian. Pak Hasan adalah anak Mbah Siti yang menjadi tulang punggung keluarga. Kedua adiknya yang tidak bekerja, menjadikan Pak Hasan harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kedua adik dan ibunya yang sudah berusia lanjut. Selain menanggung biaya hidup keluarganya, Pak Hasan juga harus membayar rumah kontrakan yang mereka tempati selama ini. Pak Hasan harus membayar Rp. 4. 000. 000,- setiapd dua tahunnya.